Karya Batik Pemuda Bondowoso Ini Diminati Artis Hingga Pejabat Ibu Kota

by -

Bondowoso, Motim – Salah satu produk batik di Kabupaten Bondowoso yang cukup terkenal adalah Ijen Batik Kecamatan Tamanan. Didirikan oleh tiga orang, produk batiknya terus berkembang dari waktu ke waktu.

Salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia adalah batik. Sebagai warisan budaya, batik telah dikenal lama di berbagai daerah di Nusantara.

banner 728x90

Tidak hanya tumbuh dan berkembang di tanah Jawa, bebeberapa arkeolog dan sejarawan mempercayai bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua.

Kekayaan budaya ini pun dipertahankan hingga kini. Bahkan di setiap daerah punya batik khas masing-masing. Seperti di Bondowoso yang dikenal dengan motif Kopi, Blue Fire dan Daun Singkong.

Andrianto, pemilik dan sekaligus desainer Ijen Batik mengatakan, bahwa ia tak hanya mengandalkan kualitas pencantingan saja, tapi juga desain dari batik itu sendiri.

“Yang membuat batik mahal juga karena desainnya. Karena kita membuat desain itu sesuai dengan permintaan orang,” katanya.

Menurutnya, bukan perkara mudah menerjemahkan keinginan konsumen ke dalam sebuah desain batik. Sehingga desain juga menentukan harga. Jadi kalau konsumen minta batik tertentu, kita terjemahkan ke dalam batiknya. Tidak semua pembatik bisa menerjemahkan permintaan konsumen,” paparnya.

Menurutnya, hasil desain di awal menggagas Ijen Batik langsung diminati oleh Bawaslu pusat.¬† Kemudian mendapat pesanan dari Bawaslu Pusat. “Kita garap. Batiknya itu yang dijadikan seragam pas waktu pemilihan presiden,” jelasnya.

Tak hanya itu, karyanya juga mendapatkan perhatian menteri. Pada tahun 2018 ia iseng membuat desain tema Asian Games, dan langsung mendapat pesanan dari Menpora. Saat itu Imam Nahrawi. “Alhamdulillah tembus ke Menpora di Asian Games 2018,” jelasnya.

Tak hanya pejabat, artis ibukota sekaligus musisi ternama, Anang Hermansyah, juga tertarik dan pernah memesan buah karyanya.

“Kalau Anang sudah dua kali. Dulu pas ke Jember kita bawain selendang. Kemudian yang terakhir baju persenan khusus dan limited edition. Karena punya manajemen Anang Hijau, jadi batiknya kita buat yang hijau,” terangnya.

Sementara untuk artis memang tidak terlalu sering. Namun memang sebagian memesan untuk dipakai sendiri, dan pesannya pun yang limited edition. “Memang ada beberapa yang tidak boleh dipublikasikan sih yang pesan, ada artis dan menteri juga,” akunya.

Dijelaskannya juga, bahwa Ijen Batik digagas sejak Juli 2017 lalu. Awalnya digagas oleh tiga orang, dirinya dan dua teman kelasnya, yang sama-sama lulusan SMK Tamanan.

“Awalnya kami bekerja di bawah naungan sekolah. Produksi milik sekolah. Setelah kita merasa mampu untuk mendirikan sendiri, jadi kita patungan untuk mendirikan Ijen Batik,” jelasnya.

Pertama kali didirikan langsung merekrut lima karyawan. Justru yang direkrut bukan lulusan SMK, tapi ibu rumah tangga di sekitar. Ia ajari membatik dari nol. Semacam pemberdayaan.

“Waktu itu belum tersentuh bantuan pemerintah. Betul-betul mandiri melatih mereka untuk membuat batik. Akhirnya mereka bisa. Untuk saat ini, karyawan sudah ada 30 orang,” jelasnya.

Sementara motif yang paling diminati kata dia, adalah Blue Fire. Diambil dari situs geologi Blue Fire di Kawah Ijen. Selain itu juga motif Kopi dan Daun Singkong. Bahkan untuk tiga motif  itu, sudah dipatenkan motifnya oleh Ijen Batik.

“Kita sudah punya hak paten untuk motif Blue Fire Kopi Kong. Jadi perpaduan Blue Fire, Kopi dan Singkong. Tiga motif itu dipadukan. Itu sudah punya hak paten atau HaKI (Hak atas Kekayaan Intelektual),” jelasnya.

Adapun pemasarannya, Andri maksimalkan Medsos seperti Instagram, WA dan Facebook. Jadi 80 persen konsumen Ijen Batik itu tidak ketemu langsung. Hanya melalui WhatsApp.

“Kemudian kita kirim, desainnya yang ditawarkan juga lewat WhatsApp. Jadi orang minta desain seperti ini, kita terjemahkan langsung. Alhamdulillah banyak yang sesuai,” jelasnya.

Sementara untuk harga, karya batik pemuda di Kabupaten Bondowoso ini bervariasi. Untuk batik cap dibanderol Rp 110 ribu. Kemudian batik tulis dari harga Rp 350-500 ribu. “Sementara untuk yang limited edition dan warna alam, biasanya di atas Rp 1 Juta,” imbuhnya. (her)

banner 728x90

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.