Sri Sulistiyani, Guru SMA Pejuang Pelindung 2000 Perempuan Jember

by -

Prihatin terhadap kondisi sesama perempuan, membuat Sri Sulistiyani, seorang guru matematika di SMAN 1 Balung menjadi seorang pejuang relawan pemberdayaan perempuan di Jember. Bahkan, kini sudah ada 2000 perempuan di Jember yang bergabung bersamanya agar bersama-sama mencapai kemandirian ekonomi dan sosial.“Awalnya karena prihatin ada teman yang mengalami KDRT (kekerasan dalam rumah tangga),” ucap Sri Sulistiyani saat menceritakan awal dirinya terjun dalam dunia aktivis perlindungan perempuan. Sulis, panggilan akrabnya tidak tega melihat kejadian KDRT di sekitarnya. Namun, yang membuat dadanya semakin sesak karena sang temannya ini tidak berani menceraikan atau melaporkan suaminya kepada pihak berwajib.

Bahkan, kejadian itu berlangsung hingga 5 tahun lamanya. Yang semakin membuat miris, sempat terjadi anak perempuan temannya itu hampir diperkosa suami keduanya itu, namun tetap tidak melaporkannya. Akhirnya ketika anaknya lulus dan diterima bekerja sebagai pegawai, rekannya ini baru benar-benar berani menceraikan suaminya. Alasannya, kini ada tulang punggung yang menjadi sandaran hidup bagi rekannya itu.

Dari kasus ini, Sulis pun memahami sebagian besar kejadian KDRT kepada perempuan selama ini. Yakni karena ketidakberdayaan perempuan dalam kasus kekerasan kebanyakan karena masalah ekonomi. Sehingga kebanyakan perempuan yang mengalami kekerasan memutuskan tetap bertahan mempertahankan perkawinannya karena alasan ekonomi. Namun Sulis menjelaskan jika itu bukan satu-satunya, namun kebanyakan demikian. Banyak korban tidak berani bercerita kekerasan yang dialaminya, apalagi sampai melapor kepada pihak kepolisian. “Mereka takut besok makan apa? Mereka khawatir susah jika tidak memiliki suami,” jelasnya.

Sulis pun kemudian menyadari hal ini, apalagi dirinya sudah cukup lama juga sering bergabung dalam sejumlah aktivis perempuan di Jember sejak 1994 silam. Akhirnya, dengan modal nekat pada tahun 2000 dirinya menggagas GPP (Gerakan Peduli Perempuan) Jember. yakni lembaga nirlaba yang meng-advokasi korban kekerasan, perkosaan, KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). “Saat itu kami mendampingi kasus sebisanya dan seadanya,” jelasnya. Waktu itu pihaknya tidak memiliki pengacara.

Dirinya pun mendirikan grup Pasar Kita (grup niaga online). “Anggotanya khusus perempuan,” tegasnya. Grup ini terdiri dari masyarakat beragam latar belakang pekerjaan, pendidikan. Banyak juga ibu-ibu yang hanya berdiam dirumah. Juga yang dokter, guru, tukang ojek, tukang pijet, penjual makanan ringan dan sebagainya. Namanya pasar, maka semua bisa berjualan di grup yang penting tidak berjualan MLM dan diutamakan produk sendiri.

Kadang jualan seadanya yang dimiliki atau produk yang dihasilkan. “Bahkan ada yang jualan sambal buatan sendiri, kini sudah banyak mengirim di banyak daerah,” ucapnya. Selain meningkatkan kemandirian ekonomi, juga meningkatkan kepercayaan diri perempuan dalam pengambilan keputusan. Juga untuk menyediakan service system untuk perempuan yang bisa mempermudah kehidupan perempuan. Misalnya memiliki bayi, sedang sakit sendiri, lansia maka tetap bisa dapat membeli makanan masakan dari rumah.

Kini bukan hanya untuk berniaga saja, juga banyak sejumlah masalah sehari-hari bagi perempuan yang bisa saling bertukar informasi dan saling curhat. Bukan hanya sekedar dukungan kemandirian ekonomi saja, namun GPP Jember memiliki benteng terakhir jika menghadapi hal terburuk. Apalagi, mereka banyak berangkat berlatar aktifis perempuan, sarjana hukum, pengacara, paralegal utk mendirikan sebuah lembaga yang bisa memberikan pendampingan secara resmi kepada anggota perempuan ini yang mengalami masalah hukum.

Mereka mendirikan LBH Jentera Perempuan. “Dari kata Jentera yang berarti roda-doda yang bekerja berputar untuk perempuan,” tegasnya. Nama-nama yang tergabung antara lain Yamini Soedjai, Solehati Novitasari, Ema Kemalawati, Fitriyah Fajarwati dan Ratna Wilis. Mereka siap untuk memberikan pendampingan kepada masyarakat. Bahkan, sebagai bentuk pengabdian, LBH ini memberikan layanan bantuan hukum untuk anggota Pasar Kita yang bermasalah secara gratis. “Semuanya kami layani secara gratis, legal atau sosial. Semuanya didanai dari donasi yang kami dapat dengan menjual baju sumbangan anggota LBH ini. Antar perempuan harus saling mendukung. Jika terjadi kekerasan maka harus saling peduli dan membantu,” ucap Sulis menyebutkan idiomnya.

Dirinya mengaku kebanyakan perempuan ini masih takut untuk melangkah maju. Sehingga diperlukan pendampingan dari pihaknya untuk menguatkan mental mereka. Bahwa perempuan sebenarnya juga memiliki hak yang sama untuk mandiri. Sehingga pihaknya terus mengajak perempuan Jember untuk bisa mandiri. Sulis mengakui, grup pemberdayaan kepada perempuan ini tidak membatasi anggota yang tergabung. Yang penting memiliki nama diri terang yang jelas dan semua bisa mengajak teman sebanyak-banyaknya untuk bergabung dalam grup tersebut.

Saking flexibel-nya, kini anggotanya menjadi sangat banyak seluruh Kabupaten Jember yakni sekitar 2000an, semuanya warga perempuan Jember. Makanya, pihaknya kemudian memecah agar tidak hanya dalam satu grup saja. “Selain pasar induk (kabupaten), juga ada 32 grup Pasar Kita kecamatan,” jelas perempuan yang pernah didaulat menjadi salah satu pembicara dalam peringatan Hari Guru Internasional yang diselenggarakan secara virtual oleh UNESCO di Paris pada 5 Oktober 2020 silam. Sejak awal, gerakan ini menitikberatkan lembaga pemberdayaan perempuan yang melindungi perempuan-perempuan Jember agar lebih berdaya. (*)