Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
LumajangPeristiwa

600 Hektare Lahan Perhutani Terdampak Erupsi Gunung Semeru

By admin
December 22, 2020

Lumajang, Motim-Pihak Perhutani sudah mulai melakukan pendataan dampak erupsi Gunung Sumeru di kawasan hutan. Sementara ini, dari data awal, ada sekitar 600 hektare lahan Perhutani yang terdampak.

Waka Administratur/KSKPH Lumajang, Marhaendro Bagyo Sungkowo menyampaikan, ada dampak ringan hingga yang berat. Diantaranya dampak abu vulkanik pada lahan, sadapan getah pohon yang terganggu, hingga pohon-pohon yang mati.

“Data awal kurang lebih 600 hektare,” katanya saat mendampingi Administratur KPH Probolinggo Imam Suyuti di Pemkab Lumajang, Selasa (22/12/2020).

Lahan yang terdampak itu berada di dua kecamatan, yakni Pronijiwo dan Candipuro. “Yang paling parah di Candipuro, khususnya yang berada di aliran lahar Gunung Semeru,” ucapnya pada sejumlah wartawan.

Ia menyebut, ada banyak pohon-pohon yang telah mati di sana. “Yang dekat dengan aliran lahar Semeru banyak yang mati,” ucapnya. Ke depan, pohon-pohon yang mati itu menurutnya harus ditebang.

Sementara dampak lainnya, adalah terhadap sadapan getah pada pohon-pohon pinus. Sementara ini masyarakat tidak bisa menyadap. “Hampir dua minggu masyarakat tidak bisa memungut, tentunya berdampak pada penghasilan masyarakat,” ujar dia.

Marhaendro menambahkan, pihaknya telah melakukan pendataan sejak 20 Desember lalu. Rencananya penadataan akan terus dilakukan hingga akhir tahun. “Akhir tahun kita prediksi sudah selesai,” pungkasnya. (fit)

Author

admin

Follow Me
Other Articles
Previous

Ansor Lumajang Bantu Distribusikan 150 Ribu Masker

Next

Perumdam Tirta Mahameru Butuh Direktur yang Mau Bekerja Keras

Seedbacklink Banner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.