Bitcoin Berdarah-darah, Harga Anjlok Lebih dari 40% dari Rekor Tertinggi
Jakarta,Motim – Harga bitcoin kembali mengalami tekanan hebat dan melanjutkan tren pelemahan tajam selama tiga hari berturut-turut pada pekan ini. Aset kripto terbesar di dunia itu menyentuh level US$70.000-an pada Kamis (4/2/2026), memperpanjang koreksi dalam yang terjadi sejak beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data CoinMarketCap, bitcoin sempat terperosok hingga US$70.575 atau turun lebih dari 8% dalam perdagangan intraday. Hingga perdagangan terakhir, bitcoin berada di kisaran US$70.800, melemah sekitar 7,5% dan telah anjlok lebih dari 40% dari rekor tertingginya di sekitar US$126.000 yang tercapai pada Oktober 2025.
Sebelumnya, pada Selasa lalu, harga bitcoin telah menembus ke bawah level US$73.000, yang menjadi posisi terendah dalam sekitar 16 bulan terakhir dan mendekati level sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat (AS).
Analis Citi menilai area US$70.000 menjadi level krusial yang perlu dicermati pelaku pasar. Penembusan di bawah level tersebut dikhawatirkan akan memperdalam tren penurunan harga aset digital dalam waktu dekat.
Tekanan Geopolitik dan Kebijakan AS
Tekanan terhadap harga bitcoin dipicu oleh kombinasi faktor geopolitik dan ekonomi global. Salah satunya adalah rotasi investor keluar dari aset berisiko, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait manuver Presiden AS Donald Trump mengenai Greenland.
Selain itu, berakhirnya penutupan sebagian pemerintahan AS yang sempat menunda rilis sejumlah data ekonomi penting turut memengaruhi sentimen pasar. Investor kini semakin berhati-hati dalam mengambil risiko di tengah ketidakpastian global.
Pasar juga mencermati arah kebijakan moneter AS setelah Presiden Trump menominasikan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) pada akhir Januari lalu. Perlambatan pembentukan kerangka regulasi dan legislasi yang lebih ramah terhadap industri kripto di AS semakin menekan sentimen positif terhadap bitcoin.
Arus Keluar ETF dan Likuiditas Menyusut
Deutsche Bank mencatat terjadinya arus keluar institusional dalam skala besar dari pasar kripto. Kondisi ini dipicu oleh ekspektasi koreksi bitcoin yang lebih dalam, sehingga menggerus likuiditas dan menekan harga.
Tekanan semakin berat dengan keluarnya dana dari produk exchange-traded fund (ETF) bitcoin spot dalam beberapa bulan terakhir. Analis mencatat, ETF bitcoin spot mengalami arus keluar lebih dari US$3 miliar sepanjang Januari 2026, setelah sebelumnya mencatat sekitar US$2 miliar pada Desember dan US$7 miliar pada November 2025.
Arus keluar tersebut terjadi setelah gelombang likuidasi besar-besaran pada posisi kripto dengan leverage tinggi yang berlangsung pada Oktober lalu.
Saham Kripto Ikut Tertekan
Pelemahan harga bitcoin turut menyeret saham-saham yang berkaitan dengan aset kripto. Strategy, perusahaan yang dikenal sebagai treasury bitcoin, tercatat turun sekitar 5%. Sementara itu, saham perusahaan penambang aset digital seperti Riot Platforms dan MARA Holdings anjlok hampir 11% pada perdagangan hari yang sama.
Kondisi ini menunjukkan tekanan di pasar kripto masih berpotensi berlanjut seiring meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko di tengah ketidakpastian ekonomi global.