Jember,Motim – Penetapan awal Ramadhan di Indonesia kerap menjadi perhatian publik karena terkadang terjadi perbedaan tanggal antara organisasi kemasyarakatan Islam dan pemerintah. Dua pihak yang paling sering dibandingkan adalah Muhammadiyah dan pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia.
Lalu, apa sebenarnya perbedaan metode yang digunakan?
Metode Muhammadiyah: Hisab Hakiki Wujudul Hilal
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yakni perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan (hilal) secara matematis.
Ada tiga kriteria utama dalam metode ini:
-
Telah terjadi ijtimak (konjungsi atau pertemuan bulan dan matahari).
-
Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam.
-
Saat matahari terbenam, posisi bulan sudah berada di atas ufuk (meski sangat tipis).
Jika ketiga syarat tersebut terpenuhi, maka keesokan harinya sudah ditetapkan sebagai 1 Ramadhan.
Kelebihan metode ini adalah dapat diprediksi jauh hari sebelumnya, sehingga Muhammadiyah biasanya mengumumkan awal Ramadhan bahkan jauh sebelum bulan puasa tiba.
Metode Pemerintah: Hisab dan Rukyat
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama menggunakan metode hisab dan rukyat. Artinya, perhitungan astronomi tetap dilakukan, tetapi keputusan akhir ditentukan melalui sidang isbat berdasarkan hasil rukyat atau pengamatan langsung hilal.
Pemerintah saat ini menggunakan kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura), dengan ketentuan:
-
Tinggi hilal minimal 3 derajat.
-
Elongasi atau jarak sudut bulan-matahari minimal 6,4 derajat.
Jika hilal memenuhi kriteria tersebut dan terlihat saat rukyat, maka keesokan harinya ditetapkan sebagai 1 Ramadhan. Jika tidak memenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
Mengapa Bisa Berbeda?
Perbedaan biasanya terjadi ketika:
-
Hilal secara hisab sudah berada di atas ufuk (versi Muhammadiyah sudah masuk bulan baru).
-
Namun belum memenuhi kriteria tinggi minimal 3 derajat versi pemerintah, sehingga pemerintah menggenapkan bulan menjadi 30 hari.
Dalam kondisi seperti itu, awal Ramadhan bisa berbeda satu hari.
Mana yang Diikuti?
Secara umum:
-
Warga Muhammadiyah mengikuti keputusan organisasi.
-
Sebagian besar masyarakat mengikuti keputusan pemerintah melalui sidang isbat Kementerian Agama.
Meski berbeda metode, keduanya sama-sama menggunakan dasar ilmu falak (astronomi Islam) dan dalil syariat. Perbedaan ini merupakan bagian dari khazanah ijtihad dalam Islam dan telah berlangsung sejak lama.
Perbedaan penentuan awal Ramadhan antara Muhammadiyah dan pemerintah terletak pada metode yang digunakan. Muhammadiyah memakai hisab wujudul hilal, sedangkan pemerintah menggabungkan hisab dan rukyat dengan kriteria MABIMS.
Masyarakat diimbau tetap menjaga toleransi dan saling menghormati jika terjadi perbedaan awal puasa, karena keduanya memiliki dasar keilmuan dan pertimbangan syariat masing-masing.