Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
HeadlinePemerintahanPeristiwaSurabaya

Larangan Berkata Kasar dalam Islam, Rasulullah SAW Minta Tinggalkan

By Redaksi Memo Timur
February 26, 2026

Jakarta,Motim – Ajaran Islam dengan tegas melarang umatnya berkata kasar, kotor, atau menyakiti hati orang lain. Rasulullah SAW menyebut bahwa orang yang gemar mencaci, mengutuk, dan berkata buruk bukanlah seorang mukmin yang sempurna.

Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud RA menyebutkan:

“Bukanlah seorang mukmin yang sempurna, yang suka mencaci, mengutuk, berbuat, dan berkata kotor.” (HR Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi)

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Orang mukmin bukanlah orang yang suka mencela, bukan pula orang yang suka melaknat, bukan orang yang berkata keji, dan bukan pula orang yang suka berkata kotor.” (HR At-Tirmidzi)

Hadits tersebut menegaskan bahwa berkata kasar termasuk perbuatan tercela yang harus ditinggalkan karena dapat menjerumuskan seseorang pada perilaku negatif serta merusak kehormatan diri.

Allah SWT Membenci Sikap Sombong dan Ucapan Kasar

Dalam riwayat sahih yang dinilai oleh Al Albani, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, Rasulullah SAW bersabda:

“Sungguh, Allah membenci orang yang sok fasih dalam berbicara, yaitu orang yang memainkan lidahnya seperti seekor sapi memainkan lidahnya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

Selain itu, Al-Qur’an juga mengingatkan agar manusia tidak bersikap sombong dan tidak berbicara dengan suara keras. Dalam Surah Luqman ayat 18–19 disebutkan agar manusia berjalan dengan sederhana dan melembutkan suara, karena seburuk-buruk suara adalah suara keledai.

Pesan ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi adab dalam berbicara dan bersikap.

Prinsip Qaulan Layyina dalam Komunikasi Islami

Sebagai lawan dari ucapan kasar, Islam mengajarkan prinsip qaulan layyina, yaitu berbicara dengan lemah lembut, santun, dan penuh keramahan.

Dalam Surah Taha ayat 44, Allah SWT berfirman:

“Berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dengan perkataan yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut.”

Ayat ini menunjukkan bahwa bahkan kepada sosok sekeras Fir’aun sekalipun, Allah SWT memerintahkan komunikasi yang lembut.

Prinsip qaulan layyina mencakup:

  • Nada suara yang lembut dan tidak meninggi

  • Pilihan kata yang baik dan tidak menyakitkan

  • Ekspresi wajah yang ramah

  • Penyampaian yang jelas dan penuh makna

Cara Bicara Rasulullah SAW

Dalam sebuah riwayat, Al Hasan bin Ali pernah meminta pamannya menggambarkan cara Rasulullah SAW berbicara. Diceritakan bahwa beliau jarang marah dan tidak pernah berkata kasar. Jika marah, beliau hanya memalingkan wajah.

Beliau memulai dan mengakhiri perkataan dengan menyebut nama Allah. Ucapannya padat, jelas, penuh makna, serta tidak berlebihan.

Teladan ini menjadi bukti bahwa komunikasi yang santun adalah bagian dari akhlak seorang muslim.

Hikmah Larangan Berkata Kasar

Larangan berkata kasar dalam Islam bertujuan untuk:

  1. Menjaga kehormatan diri dan orang lain

  2. Menghindari permusuhan dan konflik

  3. Membentuk pribadi yang berakhlak mulia

  4. Menciptakan lingkungan sosial yang harmonis

Dengan menerapkan prinsip qaulan layyina, seorang muslim tidak hanya menjaga lisannya, tetapi juga memperkuat kualitas iman dan akhlaknya.

Semoga kita semua mampu menjaga ucapan dan meneladani akhlak Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari.

Author

Redaksi Memo Timur

Follow Me
Other Articles
Previous

Makna Mujahadah An Nafs dalam Kisah Nabi Yusuf AS

Next

Gubernur Khofifah Ubah Kawasan Kumuh Kepuhanyar Jadi Permukiman Produktif , Dengan Program PERMATA Jatim

Seedbacklink Banner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.