Pemprov Jatim Bedah Rumah Penjaga Sekolah SMAN 2 Surabaya

Surabaya Motim – Pengabdian selama 19 tahun Wandhori sebagai penjaga keamanan di SMAN 2 Surabaya akhirnya berbuah manis.
Di momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), pria berusia 41 tahun tersebut mendapat kado istimewa berupa renovasi total huniannya melalui program bedah rumah hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Baznas Jatim.
Selama lebih dari satu dekade, Wandhori bersama delapan anggota keluarganya harus bertahan di rumah yang tidak layak huni di Jalan Dinoyo Baru No. 47, Kecamatan Tegalsari.
Kondisi atap yang bocor dan dinding yang terkelupas membuat mayoritas ruangan tidak bisa digunakan. Dari empat kamar yang tersedia, hanya satu yang berfungsi, sehingga ruang tamu terpaksa disulap menjadi tempat tidur darurat beralaskan tikar.
“Dulu kalau hujan rembes semua. Kami tidur berdesakan di ruang tamu karena kamar tidak bisa dipakai. Sekarang, alhamdulillah, anak-anak sudah bisa tidur di kamar masing-masing,” ujar Wandhori dengan mata berkaca-kaca saat ditemui, Selasa, 5 Mei 2026.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, meninjau langsung hasil renovasi tersebut. Ia menegaskan bahwa perhatian pemerintah tidak boleh hanya terpaku pada tenaga pendidik atau guru, tetapi juga harus menyasar tenaga kependidikan yang memiliki peran vital dalam ekosistem sekolah.

“Kita harus peduli secara menyeluruh. Pak Wandhori ini sudah mengabdi selama 19 tahun. Ini adalah bentuk apresiasi dan kepedulian kami terhadap insan pendidikan yang telah berdedikasi lama,” kata Khofifah di lokasi.
Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur Aries Agung Paewai menambahkan, anggaran yang dialokasikan untuk setiap rumah berkisar antara Rp20 juta hingga Rp25 juta. Program ini merupakan agenda berkelanjutan yang menyasar seluruh wilayah di Jawa Timur.
“Tahun lalu Ibu Gubernur juga sudah melakukan hal serupa. Jika ditotal, saat ini sudah ada sekitar 135 rumah tenaga kependidikan di 38 kabupaten/kota yang telah kami bedah,” jelas Aries.
Kini, rumah Wandhori tak lagi kusam. Atapnya telah kokoh menghalau hujan, dindingnya dicat rapi, dan lantai keramiknya kini mengkilap. Bagi Wandhori, bantuan ini adalah kemewahan yang sebelumnya mustahil ia wujudkan secara mandiri karena keterbatasan upah yang habis untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan pokok. (*/ady)