Hilangkan Stigma, RS Menur Resmi Rebranding Jadi RS Prof.dr.Moeljono Fokus Layani Kesehatan Mental Anak.

Direktur Rumah Sakit Prof.dr.Moeljono
Provinsi Jawa Timur.
Surabaya, Motim – drg. Vitria Dewi,M.Si., Direktur Rumah Sakit Prof. dr. Moeljono, secara resmi mengumumkan langkah strategis berupa _rebranding_ atau penyegaran identitas institusi. Langkah ini merupakan upaya nyata untuk mengikis stigma negatif yang selama ini melekat di masyarakat.
Selama ini, RS Menur kerap diidentikkan secara sempit oleh masyarakat, termasuk dalam pemberitaan media, sebagai rumah sakit yang hanya menangani gangguan jiwa berat. Julukan seperti “kartu kuning” membuat banyak pasien dan keluarga merasa takut serta malu untuk berobat. Padahal, RS Menur memiliki beragam layanan medis spesialis yang sangat dibutuhkan masyarakat luas.
Melalui rebranding ini, RS Menur berganti nama menjadi Rumah Sakit Prof. dr. Moeljono. Rumah sakit berkomitmen menghadirkan suasana yang lebih nyaman, ramah, dan inklusif bagi seluruh pasien. Perubahan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa mengakses layanan kesehatan jiwa maupun layanan medis khusus lainnya di rumah sakit adalah hal yang aman dan tidak perlu dikhawatirkan karena stigma.
*Soroti Krisis Kesehatan Mental Anak dan Remaja*
Bertepatan dengan momentum Hari Keluarga, manajemen RS Prof. dr. Moeljono juga memaparkan data yang memprihatinkan terkait peningkatan kasus gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja. Kondisi ini menjadi perhatian serius dalam upaya menyiapkan generasi muda yang sehat menyongsong Indonesia Emas 2045.
Berdasarkan hasil analisis kasus di lapangan, banyak anak dan remaja mengalami tekanan mental hingga stres. Penyebabnya antara lain kurangnya perhatian orang tua, konflik internal keluarga, hingga ketidakharmonisan hubungan ayah dan ibu. Kondisi psikologis anak yang rentan ini juga berkaitan erat dengan tingginya angka pernikahan dini serta berbagai problematika keluarga yang sering ditangani oleh Pengadilan Agama dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.
drg. Vitria menegaskan, penanganan medis dan psikologis di rumah sakit hanyalah satu bagian dari proses pemulihan. Faktor paling dominan untuk kesembuhan jangka panjang anak adalah peran keluarga.
“Keluarga harus menjadi _supporting system_ atau sistem pendukung utama. Keluarga yang kuat dan harmonis mampu memberikan penguatan serta membantu memulihkan kondisi mental anak agar mereka dapat kembali beraktivitas di masyarakat dengan baik,” pungkasnya.(*/ady)