Luas Mangrove Jatim Capai 31.067 Hektare, Gubernur Khofifah: Ini Investasi Ekologis untuk Masa Depan

Surabaya Motim – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menguatkan gerakan tanam dan pelestarian mangrove. Ajakan itu disampaikan saat peringatan Hari Mangrove Sedunia 2026 di Surabaya, Minggu (26/7).
Menurut Khofifah, pelestarian mangrove merupakan investasi ekologis jangka panjang. Selain melindungi garis pantai, mangrove juga berperan penting dalam mengurangi dampak perubahan iklim dan menjaga ketahanan masyarakat pesisir.
“Menjaga mangrove berarti menjaga garis pantai, melindungi keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan masyarakat pesisir, sekaligus mengamankan masa depan anak cucu kita. Karena itu, perlindungan mangrove harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujar Khofifah.
Peringatan tahun ini mengusung tema *“Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang”*. Khofifah menyebut tema tersebut menegaskan bahwa menjaga mangrove bukan hanya soal lingkungan hari ini, tetapi juga tanggung jawab antargenerasi untuk mewariskan ekosistem yang sehat dan tangguh.

Ekosistem mangrove dinilai memiliki peran strategis. Selain menjadi benteng alami dari abrasi, gelombang tinggi, dan intrusi air laut, mangrove juga mampu menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar.
“Mangrove memiliki manfaat yang luar biasa. Kemampuan menyerap karbonnya sangat besar, bahkan dapat mencapai hingga lima kali lipat dibanding hutan daratan. Karena itu, keberadaannya sangat penting dalam menghadapi pemanasan global dan perubahan iklim,” jelasnya.
Selain manfaat ekologis, kawasan mangrove juga menjadi habitat penting bagi ikan, udang, kepiting, kerang, dan berbagai jenis burung. Kondisi ini menjadikan mangrove sebagai penopang ekonomi masyarakat pesisir.
“Ketika mangrove tumbuh dengan baik, ekosistem laut di sekitarnya juga ikut hidup. Ada ikan, udang, dan kepiting. Sumber penghidupan nelayan menjadi lebih dekat sehingga mereka tidak harus melaut terlalu jauh untuk memperoleh hasil tangkapan,” terang Khofifah.
*Capaian Positif di Jawa Timur*
Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus memperkuat program perlindungan lingkungan, salah satunya melalui rehabilitasi dan pengembangan kawasan mangrove.
Berdasarkan Peta Mangrove Nasional, luas ekosistem mangrove di Jatim terus meningkat. Pada 2021 luasnya 27.221 hektare, naik menjadi 30.839 hektare pada 2024, dan kembali bertambah menjadi 31.067 hektare pada 2025.
Angka tersebut setara dengan 47,85 persen dari total luas mangrove di Pulau Jawa. Artinya, hampir separuh ekosistem mangrove di Jawa berada di wilayah Jawa Timur.
“Capaian ini bukan sekadar angka. Ini merupakan hasil kerja kolaboratif pemerintah, masyarakat pesisir, akademisi, komunitas lingkungan, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan yang selama ini bersama-sama menanam, merawat, serta menjaga mangrove,” ungkapnya.
Khofifah juga menyebut luas lahan kritis di Jawa Timur terus mengalami penurunan. Hal ini menjadi indikator membaiknya kualitas pengelolaan lingkungan di Jatim.
Keberhasilan tersebut tidak lepas dari berbagai gerakan yang telah diinisiasi, termasuk *Gerakan Nandur Mangrove* sebagai gerakan kolektif untuk menanam, merawat, dan menjaga mangrove sebagai benteng alami kawasan pesisir.(*/ady)
