BPSDM Jatim Tutup Pelatihan Service Excellence: Nakes Harus Kompeten, Empatik, dan Terus Belajar

Surabaya Motim – Rangkaian Pelatihan Peningkatan Kapasitas Tenaga Kesehatan “Service Excellence” Provinsi Jawa Timur Tahun 2026 resmi ditutup di Kampus BPSDM Provinsi Jawa Timur, Malang, Jumat (24/7/2026).
Penutupan dilakukan langsung oleh Kepala BPSDM Provinsi Jawa Timur, Dr. Ramliyanto, S.P., M.P. Dalam sambutannya, Ramliyanto menekankan pentingnya menumbuhkan budaya belajar berkelanjutan bagi Aparatur Sipil Negara sebagai fondasi peningkatan kualitas pelayanan publik.
“Pengembangan kompetensi ASN tidak cukup hanya melalui pelatihan formal. Kita butuh pengalaman belajar yang menyenangkan, relevan, dan mendorong perubahan perilaku,” ujarnya.
Karena itu, BPSDM Jatim menerapkan pendekatan _Joyful Learning_. Konsep ini mengedepankan pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, dan bermakna. Tujuannya agar peserta terdorong untuk terus belajar, berinovasi, serta mengimplementasikan kompetensi baru dalam tugas sehari-hari.
Ramliyanto juga menyoroti peran strategis tenaga kesehatan. Menurutnya, nakes adalah garda terdepan pelayanan publik yang dituntut tidak hanya menguasai aspek teknis, tetapi juga memiliki kemampuan komunikasi, empati, dan membangun kepercayaan masyarakat.
“Pelayanan prima lahir dari perpaduan kompetensi profesional dan sikap melayani yang berorientasi pada kebutuhan pasien,” tegasnya.
Semangat ini sejalan dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2023 tentang Aparatur Sipil Negara. UU tersebut menegaskan bahwa setiap ASN wajib mengembangkan kompetensi secara terus-menerus agar mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan strategis, perkembangan teknologi, dan kebutuhan organisasi.
Selama pelatihan, peserta tidak hanya dibekali konsep _service excellence_. Mereka juga diajak memahami bahwa kualitas layanan kesehatan sangat ditentukan oleh pengalaman masyarakat saat menerima layanan. Kecepatan, keramahan, profesionalisme, dan kemampuan memahami kebutuhan pasien menjadi kunci membangun kepercayaan publik.
Mengusung tema *”Beyond Service Excellence: Kompetensi dan Empati Serasi dalam Aksi”*, pelatihan ini menjadi pengingat bahwa layanan kesehatan berkualitas tidak hanya lahir dari kecakapan teknis. Kepedulian, empati, dan komitmen untuk terus berkembang sama pentingnya.
BPSDM Provinsi Jawa Timur berharap seluruh peserta membawa semangat _Joyful Learning_ ke unit kerja masing-masing. Proses belajar, kata Ramliyanto, tidak berhenti saat pelatihan selesai, melainkan harus menjadi bagian dari budaya kerja.
“Dengan bekal ini, para tenaga kesehatan diharapkan kembali bertugas sebagai pelayan masyarakat yang kompeten, humanis, dan mampu menghadirkan layanan kesehatan yang semakin berkualitas bagi masyarakat Jawa Timur,” pungkasnya.(*/ady)
