Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper

Rayakan Usia ke-77, SBY Gelar Pameran Lukis dan Luncurkan Buku Monograf di Surabaya

By Redaksi Memo Timur
September 16, 2026

Surabaya Motim – Pameran tunggal karya lukis Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Presiden ke-6 Republik Indonesia, digelar di Voza Tower Surabaya, Selasa (15/9/2026).

Pada pameran kali ini, setidaknya 100 mahakarya dari ratusan koleksi lukisannya dipamerkan. Sejumlah karya lainnya tidak dapat dibawa karena masih dalam proses pengiriman dari Amerika Serikat.

“Ada lebih dari 100 karya lukis yang sudah saya selesaikan dan tidak saya bawa semua, terutama yang saya buat saat di Amerika yang saat ini masih dalam perjalanan pengiriman,” ujar SBY kepada media di Surabaya.

Selain pameran lukis yang berlangsung selama dua pekan, mulai 16 hingga 29 September 2026, momentum pembukaan juga ditandai dengan peluncuran buku monograf berjudul _Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Lanskap Hati Susilo Bambang Yudhoyono_.

Pameran ini menyajikan potret perjalanan batin sang negarawan saat mengeksplorasi bahasa rupa, terutama pasca-berpulangnya sang istri tercinta, Hj. Kristiani Herrawati atau Ani Yudhoyono.

“Saya melukis bukan sekadar hobi setelah purna tugas, namun lebih dari itu, melukis adalah merajut kenangan dan saya mencoba berdamai setelah berpulangnya Bu Ani. Karya lukisan saya ini sebetulnya saya gunakan untuk banyak hal, bantuan sosial, membiayai klub bola voli LavAni, kemudian juga mendukung pemeliharaan Museum dan Galeri SBY-Ani yang ada di Pacitan,” kata SBY.

Menariknya, sebagian karya yang dipajang berawal dari album kenangan fotografi karya almarhumah Ani Yudhoyono. SBY melukis ulang sudut-sudut lanskap indah yang pernah ditangkap kamera sang istri, mengalihkan jepretan lensa menjadi goresan kuas yang berkarakter.

Di balik puluhan lukisan yang dipamerkan, terdapat sejumlah karya yang memiliki nilai emosional mendalam bagi SBY. Lukisan-lukisan tersebut menjadi medium untuk mengekspresikan kesedihan, kehilangan, dan kerinduan setelah sang istri wafat.

“Ada beberapa lukisan yang saya lukis itu hasil fotografi mendiang istri tercinta, Ibu Ani Yudhoyono. Ada lukisan yang mengekspresikan kesedihan, kehilangan, dan kerinduan saya setelah Ibu Ani berpulang,” ungkapnya.

SBY juga menceritakan kebiasaannya melukis di luar studio. Ia menerapkan teknik _plein air painting_ atau melukis langsung di lokasi. Sejumlah karya bahkan dibuat secara spontan ketika dirinya sedang dalam perjalanan.

“Kalau saya melukis di luar, bukan di studio. Apakah di pinggir pantai, di kaki gunung, di tikungan jalan, itu mostly spontanitas saya. Ketika bepergian menggunakan bus dan menemukan lokasi yang menurut saya menarik untuk dilukis, saya meminta kendaraan berhenti. Di sanalah saya meluapkan guratan keindahan alam di atas kanvas,” paparnya.

Karena itu, SBY selalu membawa perlengkapan melukis ke mana pun ia bepergian. Bahkan jika tidak menggunakan kendaraan khusus, ia tetap membawa koper kecil berisi cat, kuas, kanvas, dan perlengkapan lainnya.

“Ke mana pun saya berangkat, entah dalam negeri atau luar negeri, selalu ada koper kecil untuk peralatan lukis. Ada juga karya yang saya buat secara khusus atau sudah direncanakan sebelumnya, seperti lukisan Gunung Merapi dari Boyolali, Puncak Pass dari Cisarua, hingga Pantai Klayar di Pacitan,” ujarnya.

Pameran tunggal perdana SBY di Surabaya ini juga menjadi bagian dari peluncuran buku monograf. Buku tersebut digagas pengusaha nasional Hermanto Tanoko dan disusun bersama kurator Suwarno Wisetrotomo, mantan Kurator Galeri Nasional Indonesia periode 1998–2024.

Peluncuran buku bertepatan dengan perayaan usia SBY yang ke-77 tahun. Lewat wawancara mendalam bersama SBY, Suwarno menyusun rekam jejak, teknik melukis, hingga latar belakang filosofis di balik penciptaan setiap karya.

Gagasan pendokumentasian dan pameran ini pertama kali dicetuskan oleh Hermanto Tanoko. Kekagumannya pada rekam jejak kepemimpinan SBY serta konsistensi estetiknya melahirkan ide untuk mendokumentasikan karya-karya tersebut agar dapat dinikmati publik secara luas.

“Bagi saya, melukis dan mengelola bisnis memiliki filosofi dasar yang sama: keduanya membutuhkan visi yang jernih, kepekaan terhadap rasa, keberanian dalam mengambil keputusan, serta ketekunan dalam merajut setiap detailnya. Di balik perjalanan panjang Bapak SBY sebagai prajurit dan pimpinan bangsa, ternyata ada jiwa seniman yang sangat kuat,” tegas Hermanto.

Pameran lukisan SBY di Voza Tower Surabaya dibuka gratis untuk umum setiap hari pukul 10.00 hingga 21.00 WIB.

*Dari Surabaya untuk Apresiasi Seni yang Lebih Luas*

Surabaya sebagai lokasi penyelenggaraan diharapkan menjadi salah satu titik penting bagi pengembangan seni lukis Indonesia. Semangat utama yang dibawa adalah kolaborasi dan keterbukaan akses terhadap seni.

Dengan menghadirkan karya-karya SBY kepada masyarakat, pameran di Surabaya ini diharapkan dapat menumbuhkan ketertarikan baru terhadap seni lukis sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak ruang seni untuk berbagai kalangan.

“Kita akan melihat sisi lain dari sosok Bapak SBY. Di balik perjalanan panjangnya sebagai seorang prajurit, negarawan, dan pemimpin bangsa, ternyata ada jiwa seorang seniman,” pungkasnya. (*/ady)

Author

Redaksi Memo Timur

Follow Me
Other Articles
Previous

Komite I DPD RI di Surabaya: Konflik Lahan dan LP2B Jadi Sorotan RUU Pertanahan

Next

Harlah ke-20 Ponpes Al-Fatimah Bojonegoro Meriah, Ning Lia Diserbu Santri untuk Foto Bersama

SeedbacklinkBanner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.