1.360 RW Ikut Lomba Kampung Pancasila Surabaya, Ning Lia Apresiasi Langkah Cak Eri Hidupkan Nilai Pancasila

Surabaya Motim – Kampung Pancasila di Kota Surabaya kembali menggeliat. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya kembali menghidupkan program tersebut sebagai ruang untuk membangun kembali gotong royong, kepedulian sosial, toleransi, hingga kemandirian warga.
Lomba Kampung Pancasila 2026 resmi diluncurkan pekan lalu di Balai Kota Surabaya. Sebanyak 1.360 Rukun Warga (RW) se-Surabaya terlibat dalam gerakan tersebut.
Pemkot Surabaya menempatkan gotong royong sebagai ruh utama program, dengan mendorong warga untuk ikut menyelesaikan persoalan di lingkungan masing-masing.
Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, mengatakan lomba tersebut menjadi momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
“Saya berharap dengan kembali kepada Kampung Pancasila ini, maka gotong royong, saling tolong menolong dan menjaga dilakukan di Kota Surabaya,” kata Cak Eri usai peluncuran lomba di Balai Kota Surabaya.
Agenda Pemkot Surabaya itu mendapat apresiasi dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia.
Sebelumnya, saat bertemu dengan Cak Eri di Balai Kota, Ning Lia menyebut keberlangsungan bangsa sangat bergantung pada sejauh mana nilai-nilai Pancasila dijalankan dalam tindakan nyata.
“Kampung Pancasila adalah bentuk konkret penerapan nilai tersebut dalam kehidupan masyarakat. Bahkan, saya yakin Surabaya dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam menghidupkan nilai Pancasila di tingkat masyarakat,” ujar Ning Lia, senator asli Surabaya tersebut.
Menurut Ning Lia, Pancasila dalam konteks ini tidak hanya ditempatkan sebagai materi Pendidikan Kewarganegaraan atau simbol kenegaraan. Nilainya diterjemahkan menjadi tindakan sosial, seperti membantu tetangga, menjaga lingkungan, membangun toleransi, menguatkan ekonomi warga, serta menyelesaikan persoalan bersama.
Di titik inilah pemikiran Ning Lia tentang keberlangsungan bangsa dapat dibaca lebih jauh. Keberlangsungan bangsa bukan hanya persoalan kuatnya institusi negara, tetapi juga dimensi masyarakat sipil atau _civil society_ yang menjadi kekuatan sosial di luar struktur pemerintahan.
Negara membuat kebijakan dan menyediakan ruang. Namun, kebijakan tersebut membutuhkan masyarakat yang mau terlibat, memiliki kepedulian, serta mempunyai rasa percaya terhadap institusi negara.
Dalam forum kebangsaan bersama pemuda, Ning Lia menekankan pentingnya menempatkan masyarakat sebagai agen keberlangsungan bangsa. Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai siklus sosial dan potensi disintegrasi ketika hubungan emosional antara masyarakat dengan negara melemah.
“Ketika warga terbiasa saling membantu, muncul solidaritas. Ketika masyarakat merasa didengar dan dilibatkan, kepercayaan dapat tumbuh. Dan ketika negara mampu hadir melalui kebijakan yang dirasakan manfaatnya, hubungan antara negara dan masyarakat menjadi semakin kuat,” kata Ning Lia.
Perspektif tersebut sejalan dengan pandangannya dalam berbagai isu kebangsaan lainnya. Senator Jatim itu menekankan tiga hal untuk keberlangsungan bangsa, yakni pendidikan berkualitas, demokrasi yang sehat, dan kesepakatan publik mengenai arah pembangunan nasional.
Pada 2026 ini, Ning Lia juga menekankan pentingnya _public trust_ atau kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Menurutnya, tindakan negara yang nyata dan konsisten diperlukan untuk menjaga kepercayaan tersebut.
“Benang merahnya adalah hubungan timbal balik. Pemerintah membutuhkan kepercayaan masyarakat. Masyarakat membutuhkan pemerintah yang hadir dan bekerja. Di antara keduanya terdapat ruang sosial yang disebut civil society. Dan Kampung Pancasila dapat menjadi salah satu ruang tersebut,” pungkasnya.(*/ady)
