Wagub Jatim Tekankan Monitoring Imunisasi dan Satu Desa Satu Perawat untuk Tekan Kasus Kesehatan Kompleks

Surabaya Motim – Indikator paling penting dalam kesehatan ada di tingkat desa. Hal itu ditegaskan Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, saat diwawancarai awak media, terkait upaya peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak di Jawa Timur.
Menurutnya, setiap Dinas Kesehatan di masing-masing kabupaten dan kota harus menempatkan monitoring terhadap imunisasi sebagai prioritas. Angka imunisasi yang relatif tinggi harus terus dijaga dan ditingkatkan, karena menjadi penanda awal keberhasilan layanan kesehatan dasar.
“Indikator paling penting dalam kesehatan, setiap Dinas Kesehatan di masing-masing kabupaten dan kota menempatkan monitoring terhadap imunisasi,” ujar Emil , Kamis (05/11/2026) usai Sidang Paripurna DPRD Jatim.
Ia menjelaskan, Pemerintah Provinsi Jawa Timur sebenarnya sudah memiliki program Merawat, yakni satu desa satu perawat. Program tersebut kini harus digerakkan agar lebih efektif lagi.
“Satu orang perawat di setiap desa ini harus digerakkan supaya lebih efektif lagi bagaimana upaya untuk memonitor kondisi (kesehatan masyarakat). Kalau puskesmas kan satu kecamatan paling tidak satu atau dua, jadi mau tidak mau salah satunya itu,” jelasnya.
Selain perawat desa, langkah kedua yang sedang dilakukan adalah menggerakkan Tim Pembina Posyandu sekaligus Ketua PKK yang saat ini sedang berkeliling kabupaten/kota. Tujuannya untuk memastikan sistem Posyandu berjalan dengan baik.
“Meskipun Posyandu kaitannya dengan bayi setelah lahir, tetapi kader Posyandu ini harus paham dari (sejak kehamilan),” kata Emil.
Ia menekankan, hal yang paling penting adalah deteksi kehamilan risiko dini. Menurutnya, banyak kasus kesehatan ibu dan anak yang kompleks berawal dari tidak terdeteksinya risiko sejak awal kehamilan.
“Yang paling penting kan adalah hamil risiko (dini). Saya baru (mendapat laporan) proses melahirkan, sekali lagi kasus ini kompleks,” ujarnya.
Emil menyampaikan keprihatinannya atas kasus-kasus yang muncul belakangan. Ia menyebut kasus-kasus tersebut harus dibedah lagi, dengan pandangan dari para pakar, agar tidak terulang.
“Ini yang dari kasus-kasus seperti ini kita perlu bedah lagi. Sangat prihatin,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap ibu hamil memeriksakan kehamilannya secara rutin, terutama melalui Posyandu. Pemeriksaan rutin menjadi kunci untuk mendeteksi risiko sejak dini dan menentukan penanganan yang tepat.
“Tetapi ini juga menjadi kasus-kasus kompleks yang harus (diselesaikan). Ada yang bagaimana ibu itu harus memeriksakan kehamilannya, terutama juga yang lewat Posyandu,” jelasnya.
Menurut Emil, dua langkah tersebut, yakni mengoptimalkan satu desa satu perawat dan memperkuat pembinaan Posyandu, harus dilakukan bersamaan agar upaya pencegahan kasus kesehatan kompleks di Jawa Timur bisa berjalan lebih efektif.
“Ini adalah dua langkah tadi yang harus kita lakukan untuk bagaimana kita bisa (menurunkan kasus),” pungkasnya.(*/ady)
