Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper

Angkat Isu Reklamasi Kenjeran, Komunitas Teater Surabaya Sadur Ulang “Awal dan Mira” Karya Utuy Tatang Sontani

By Redaksi Memo Timur
August 22, 2026
Deddy Hariyono Kepala UPT Taman Budaya Disbudpar Jatim.

Surabaya Motim – Sebuah komunitas seni teater asal Surabaya menyadur ulang naskah drama klasik “Awal dan Mira” karya sastrawan legendaris Utuy Tatang Sontani. Pertunjukan ini dikemas dengan sentuhan budaya Arek dan mengangkat isu sosial-lingkungan kontemporer terkait proyek reklamasi di kawasan Kenjeran, Surabaya.

Pementasan berdurasi sekitar 1 jam 15 menit hingga 20 menit itu merupakan bagian dari Program Manajemen Talenta Teater 2026 dan digelar Sabtu malam, 22 Agustus 2026.

Pindahkan Latar ke Pesisir Kenjeran.

Deddy Hariyono Kepala UPT Taman Budaya Disbudpar Jatim berikan Piagam Penghargaan kepada Sutradara “Awal dan Mira” Yoga Yan Wardhana di Gedung Cak Durasim Taman Budaya.

Sutradara “Awal dan Mira” YogaYan Wardhana, menuturkan eksplorasi naskah realis ini memindahkan latar dari warung di tengah reruntuhan perang pada naskah asli, menjadi warung di tepi area proyek reklamasi laut _waterland_ Kenjeran.

“Proses penyaduran ini berangkat dari observasi langsung ke kampung nelayan di Kenjeran. Melalui dialog para tokohnya, pertunjukan ini menyuarakan keluh kesah, tuntutan, harapan, hingga isu-isu sensitif yang berkembang di masyarakat pesisir terkait dampak proyek reklamasi,” ujarnya.

Setiap karakter di atas panggung dirancang sebagai representasi elemen masyarakat yang terdampak. Kisah romansa antara Awal dan Mirah menjadi jembatan emosional untuk menyampaikan kritik sosial yang kompleks.

Tantangan Teknis: Projection Mapping dan Kolaborasi 12 Pemain.

Tim produksi mengaku menghadapi sejumlah tantangan selama dua bulan proses pendampingan dan kurasi:
1. *Inovasi Artistik*: Mengolah teater realis agar tidak monoton melalui penataan tangga dramatik dan efek visual spektakel.
2. *Penggunaan Teknologi*: Memadukan konsep _projection mapping_ di atas panggung di tengah keterbatasan perangkat teknis.
3. *Kolaborasi Pemain*: Mengarahkan 12 pemain, termasuk 2 pemusik yang tampil langsung di atas panggung.

“Isu reklamasi Kenjeran dipilih karena kedekatan lokasinya serta dinamika sosialnya yang masih terus bergulir. Melalui pertunjukan ini, seniman berharap dapat menghadirkan ruang refleksi publik atas konflik kepentingan, nasib masyarakat pesisir, dan kepastian masa depan lingkungan laut Surabaya,” jelas Yoga.

Masterclass Manajemen Talenta Teater 2026 Soroti Isu Lokal.

Kurator sekaligus mentor dari STKW Jatim, Deny Tri Aryanti,S.Sn.,M.Hum., mengatakan Program Manajemen Talenta Teater 2026 berkomitmen mengembangkan potensi teater daerah melalui kurasi ketat.

Dari 15 kelompok yang mendaftar, 10 kelompok mengikuti workshop, dan 6 komunitas terbaik lolos ke tahap Masterclass. Mereka mendapat pendampingan intensif dari tiga mentor: pakar penyutradaraan Mas Guru Tayunga dan Pak Joko Moron. Fokus pembinaan ada pada penyutradaraan, artistik, dan keaktoran.

“Kriteria utama kurasi tahun ini adalah keberanian komunitas mengusung ciri khas dan isu lokalitas daerah masing-masing,” kata Deny.

Enam komunitas terpilih itu antara lain:
– *Banyuwangi*: Isu perubahan iklim dari sudut pandang lokal
– *Bojonegoro*: Kesenian tradisional Sandur
– *Teater Wilwatikta*: Pertunjukan berbasis Ludruk
– *Sidoarjo*: Isu lingkungan dan dampak tambang di wilayah industri
– *Teater Sendratasik Surabaya*: Naskah _“Awal dan Mira”_ dengan isu reklamasi Kenjeran

Deny menambahkan, karya Teater Sendratasik menarik perhatian karena membungkus narasi kritik sosial dan aksi demonstrasi dengan kisah romansa. “Isu reklamasi diposisikan sebagai latar yang mempertemukan dua insan hingga menjadi sepasang kekasih. Ini memberi warna emosional yang segar di panggung teater mainstream,” ungkapnya.

Melalui pendampingan berkelanjutan ini, Manajemen Talenta Teater 2026 berharap melahirkan karya pertunjukan yang tidak hanya matang secara teknis artistik, tetapi juga berakar kuat pada realitas sosial masyarakat.

Apresiasi dari UPT Taman Budaya Jatim.

Kepala UPT Taman Budaya Disbudpar Provinsi Jawa Timur, Deddy Haryono, menyampaikan dukungan penuh terhadap program Manajemen Talenta Teater.

“Program ini dimulai dari open call, workshop, hingga masterclass. Dari proses itu terpilih enam tim terbaik. Tim ke-5 membawakan ‘Awal dan Mira’ dan sambutannya luar biasa, terutama dari anak muda,” ucap Deddy, Sabtu malam (22/8/2026).

Menurutnya, kegiatan ini bertujuan menghidupkan kembali seni pertunjukan teater dan kebudayaan daerah yang mulai redup.

“Kami mengapresiasi Kementerian Kebudayaan RI atas fasilitasi karya-karya berkualitas ini. Harapan kami, para seniman tidak berhenti di database kementerian, tetapi terus aktif dan mandiri memanfaatkan fasilitas yang ada,” terangnya.

Deddy menutup dengan pesan: “Tetaplah berkarya dan saling guyub antar sesama seniman. Guyub adalah titik tolak utama menuju keberhasilan, karena seniman adalah ujung tombak kelestarian kebudayaan.” pungkasnya.(*/ady)

Author

Redaksi Memo Timur

Follow Me
Other Articles
Previous

Gubernur Khofifah : Pemprov Jatim Kirim Bantuan Bencana NTT: 64,4 Ton Logistik hingga Tim Medis Diberangkatkan.

Next

Bedah Buku “Diaspora Madura” di Bangkalan, Ning Lia: Orang Madura Perantau yang Kuat dan Religius

SeedbacklinkBanner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.