Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
Close

Search

Subscribe
HeadlineJember

Dampak Suara Jika Capai 130 Desibel Menurut Pakar Fisika UIN KHAS Jember

By Redaksi Memo Timur
July 25, 2025

Jember,Motim – Fenomena sound horeg bukan hanya perkara musik keras semata. Secara ilmiah, praktik ini menyimpan bahaya serius bagi kesehatan fisik.

Dinar Maftukh Fajar, Kaprodi Tadris IPA FTIK UIN KHAS Jember menyampaikan bahwa suara horeg menghasilkan amplitudo tinggi melebihi ambang aman pendengaran.

Semetara itu, Amplitudo sendiri merupakan parameter gelombang penting dan perpindahan maksimum titik-titik gelombang. Dengan kata lain, amplitudo adalah jarak vertikal antara puncak atau lembah dan titik kesetimbangan.

“Batas rasa sakit telinga sekitar 120 desibel, Kalau terpapar suara di atas itu lebih dari satu menit, bisa rusak permanen.” jelasnya Jumat (25/7/2025).

Dari penelitian yang sudah di lakukan Frekuensi Suara sound horeg bisa mencapai 130 Desibel (dB). Padahal, batas toleransi telinga manusia mendengar gangguan adalah 85 dB selama 8 jam per hari.

“130 dB termasuk ekstrem. Kalau berlangsung terus-menerus, bisa merusak organ pendengaran,” tambah Dinar menjelaskan bahaya laten amplitudo tinggi.

Tak hanya soal kerasnya suara. Frekuensi juga menjadi faktor tersembunyi yang bisa memicu kerusakan lebih luas.

Frekuensi menentukan tinggi-rendahnya suara. Jika sesuai dengan frekuensi alami suatu benda, resonansi bisa terjadi.

Sementara Resonansi adalah getaran kuat karena frekuensi suara dan benda sama. Dalam kondisi ekstrem, bisa memicu rusaknya gendang telinga, dengan catatan dampaknya tidak langsung terjadi. Selain itu, benda yang memiliki tingkat frekuensi yang sama dengan suara horeg, dapat menimbulkan kehancuran pula.

“Kalau amplitudonya besar, resonansi bisa bikin benda hancur, efeknya tidak terlihat, tapi bisa sangat merusak,” ujar Dinar.

Ia mencontohkan kasus runtuhnya Jembatan Tacoma Narrows tahun 1940 akibat dampak destruktif dari tiupan angin.

“Struktur jembatan dan frekuensi angin kebetulan sama. Getarannya ekstrem, akhirnya roboh,” terang Dinar memberi ilustrasi nyata.

Fenomena sound horeg bukan semata-mata gaya hiburan, melainkan berpotensi memicu dampak kerusakan yang membahayakan keselamatan, jika terus mendengarkan di atas 130 dB

Author

Redaksi Memo Timur

Follow Me
Other Articles
Previous

Harga Tiket Terjangkau , Kapal Cepat Banyuwangi-Denpasar Resmi Beroperasi

Next

Pesan Rektor UIN KHAS Jember dalam Perayaan Idul Adha

Seedbacklink Banner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.