Dispersip Jatim Gelar Pekan Literasi Jawa Timur 2025 Dengan Tema “Menjaga Bumi dan Budaya, Membangun Persaudaraan Dunia melalui Literasi”.
Surabaya Motim – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpusip) Provinsi Jawa Timur kembali menggelar Pekan Literasi Jawa Timur 2025, yang akan berlangsung di Surabaya pada 16–18 Oktober 2025. Kegiatan tahunan ini mengusung tema “Menjaga Bumi dan Budaya, Membangun Persaudaraan Dunia melalui Literasi”, sebagai upaya memperkuat semangat membaca dan menulis sekaligus menanamkan nilai-nilai pelestarian budaya dan lingkungan.
Acara ini menghadirkan berbagai kegiatan inspiratif seperti pameran buku, diskusi literasi, lokakarya, serta kolaborasi lintas komunitas dan lembaga internasional.
Beragam pihak turut berkolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan ini, di antaranya Institut Français Indonesia, Wisma Jerman, KMH, PSGI, UNESCO, Rotary Club of Surabaya Persada, dan sejumlah komunitas literasi di Jawa Timur.
Plt. Asisten I Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Imam Hidayat membuka secara resmi kegiatan Pekan Literasi Jawa Timur. Dalam sambutannya, Imam menegaskan pentingnya literasi sebagai fondasi kemajuan bangsa, sekaligus kunci membangun masyarakat yang cerdas, produktif, dan berdaya saing di era digital.
“Semoga kejayaan bangsa ini bisa kita wujudkan kembali. Sebagai negara agraris, kita membutuhkan research and development yang kuat untuk menghadapi persaingan global,” ujarnya. Ia menambahkan, tingkat penetrasi internet di Indonesia kini telah mencapai 80,66 persen, dan di Jawa Timur bahkan lebih tinggi, yakni 82,19 persen, menunjukkan hampir seluruh lapisan masyarakat sudah terhubung dengan dunia digital.
Imam menilai, kemajuan teknologi ini harus dimanfaatkan untuk mendorong tumbuhnya minat baca di tengah masyarakat. Berdasarkan kajian nasional, tingkat kegemaran membaca masyarakat Jawa Timur pada tahun 2024 mencapai 77,15 persen, meningkat dibanding tahun sebelumnya. “Kita berada di posisi ketiga nasional, di bawah Yogyakarta dan Bangka Belitung. Ke depan, Jawa Timur harus menjadi yang terdepan,” tegasnya.
Menurutnya, membaca bukan hanya aktivitas pengisi waktu, tetapi menjadi sumber pengetahuan penting untuk menghadapi tantangan hidup. Ia juga menyoroti keterbatasan ketersediaan buku di Indonesia, di mana satu koleksi buku baru bisa diakses oleh tujuh orang. Karena itu, upaya Disperpusip Jatim dalam menyediakan layanan baca bagi masyarakat disebutnya sebagai langkah strategis memperkecil kesenjangan literasi.
Imam Hidayat turut menyinggung pentingnya pemanfaatan teknologi informasi dalam mendukung literasi digital. “Masyarakat sekarang lebih dekat dengan gawai. Karena itu, konten-konten literasi perlu dikembangkan dalam bentuk digital agar mudah diakses dan diminati,” katanya.
Selain membaca, Imam juga mendorong masyarakat untuk mulai menulis. Menurutnya, budaya menulis perlu ditumbuhkan agar pengetahuan dan pengalaman masyarakat dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. “Kita punya budaya tutur yang kuat, tetapi budaya tulis memberikan legacy yang lebih abadi. Banyak peradaban kita sulit ditelusuri karena minimnya karya tulis,” jelasnya.
Ia menutup sambutannya dengan mengapresiasi langkah Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur (Disperpusip Jatim) dalam menggelar Pekan Literasi bertepatan dengan Hari Jadi ke-80 Provinsi Jawa Timur. Imam berharap kegiatan ini menjadi momentum memperkuat budaya baca dan tulis di masyarakat, sekaligus memperkenalkan warisan intelektual ulama dan tokoh Nusantara ke dunia internasional.
“Dengan semangat literasi, semoga masyarakat Jawa Timur semakin cerdas, berilmu, dan mampu membawa kebudayaan kita dikenal luas di dunia. Mari kita buka Pekan Literasi Jawa Timur 2025 dengan bersama-sama membaca basmalah,” imbuhnya
Kepala Dispersip Prov.Jatim Tiat S.Mawardi menambahkan ” Kalau kita lihat temanya, menjaga bumi dan budaya, membangun persaudaraan dunia melalui literasi. Jadi yang pertama, kita ingin menampilkan literasi Jawa Timur yang berdunia. Antara lain yang pertama, manuskrip Anjib yang mendapatkan Memory of the World dari UNESCO.
Yang kedua, Naskah Arsip P3GI, Kursus Penelitian Gula, Indonesia Rakyat Pesulungan. Dan yang ketiga, Geopark Ijen yang mendapatkan penghargaan juga dari UNESCO. Itu yang ingin kita sampaikan kepada masyarakat.
Terkait dengan persaudaraan dunia, kita juga di sini berkolaborasi dengan IFI dari Perancis, kemudian jadi Jerman, dan juga Jepang. Jadi masing-masing itu nanti selama tiga hari penuh, jadi mulai dari 16, 17, 18, kita ada pameran. Hari ini, hari pertama, selain pembukaan juga ada pameran, pemutaran film, dan diskusi untuk tiga aitem tadi.
Untuk hari kedua, kita pemutaran film, diskusi terkait dengan negara-negara sahabat kita tadi. Diisi juga oleh komunitas. Intinya adalah bagaimana masyarakat itu mau datang ke perpustakaan, gemar membaca, karena ini sangat mempengaruhi masa depan mereka sendiri.” Imbuhnya.
“Peningkatan literasi. Ini sesuai dengan kode RPGMD yang ada sekarang, termasuk dalam Jatim Sehat, bagaimana disperkusif menjadi East Java Center of Literacy, juga termasuk pelestarian nasa kuno, dan Jatim Pura, termasuk dalam Jatim Harmoni, Jawa Timur, pusat kearsipan dan peradaban. Kalau perkembangan digitalisasi, seperti apa? Untuk digitalisasi, itu ada dua.
Pertama, ada buku-buku digital yang ditempatkan di sini, jadi teman-teman semua sahabat pustaka bisa membuka Play Store di Jatim. Nanti tinggal klik, bisa pinjam yang dibaca ke buku digital. Yang kedua, buku-buku digital yang merupakan barcode yang kita bagikan ke masyarakat.
Isi bukunya sesuai dengan kebutuhan. Misalnya kita berikan ke DHD, isi buku sesuai dengan tema DHD. Atau misalnya masyarakat melayan, tentu tema melayan.
Tadi kebetulan ada yang merupakan buku ke-1999. Sebetulnya satu lagi 2000. Jadi tadi buku ke-1999 yang kita berikan kepada masyarakat luas dari pemerintahan agar masyarakat bisa membaca.
Dan satu lagi, terkait dengan digitalisasi. Bagaimana hal itu justru menjadi peluang bagi kita untuk semakin memasyarakat. Lebih membaca kepada seluruh masyarakat.” pungkasnya.(*/ady).