Skip to content
-
Subscribe to our newsletter & never miss our best posts. Subscribe Now!
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper
Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

Memo Timur Memo Timur Memo Timur

Jujur - Cerdas - Berani

  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
  • Home
  • Jember
  • Headline
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Pemerintahan
  • Surabaya
  • Gresik
  • Bondowoso
  • Politik
  • Daihatsu GranMax Blind Van, Solusi Praktis untuk Mendukung Kebutuhan Usaha
Close

Search

  • Home
  • Peristiwa
  • Hukum dan Kriminal
  • Daerah
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Pendidikan
  • Kesehatan
  • Ekonomi Bisnis
  • Epaper

Jatim Jadi Provinsi Percontohan Nasional dalam Pengelolaan Keanekaragaman Hayati

By Redaksi Memo Timur
October 21, 2026
Plh Sekdaprov Jatim Heru Wahono Santoso di dampingi Nurkholis Kepala DLH Prov.Jatim dalam Peluncuran Profil Keanekaragaman Hayati(Kehati)2026 dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati(RIP Kehati) 2026-2030.

Surabaya Motim –Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengintegrasikan pelestarian keanekaragaman hayati dalam pembangunan daerah melalui peluncuran Profil Keanekaragaman Hayati (Kehati) 2026 dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati) 2026–2030. Kedua dokumen tersebut menjadi landasan untuk memetakan kekayaan alam sekaligus menentukan arah pengelolaannya secara berkelanjutan.

Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, R. Heru Wahono Santoso, mengatakan keberadaan kedua dokumen tersebut memberikan dasar bagi pemerintah untuk mengidentifikasi potensi keanekaragaman hayati sekaligus menyusun langkah pelestariannya.

“Sudah punya profil sekaligus juga rencana induk pengelolaan. Jadi, kita punya peta datanya keanekaragaman hayati, sekaligus kita juga punya jalan untuk pengelolaannya,” kata Heru di Surabaya, Selasa (20/10/2026).

Ia menegaskan, pelestarian lingkungan merupakan komitmen Pemprov Jatim yang diwujudkan melalui berbagai upaya, termasuk penanaman mangrove bersama masyarakat. Menurutnya, sumber daya alam di kawasan pegunungan, hutan, pesisir, dan laut perlu dijaga dari sisi jumlah maupun kualitasnya agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.

Heru juga menekankan pentingnya keterlibatan seluruh unsur pentahelix dalam pelestarian lingkungan, mulai dari pemerintah, masyarakat, akademisi, dunia usaha, hingga media.

“Kita harus melibatkan semua unsur pentahelix. Tidak hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, akademisi, dunia usaha, dan media. Mari kita lestarikan Bumi Mojopahit ini,” ujarnya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jawa Timur, Nurkholis, menjelaskan, Profil Kehati 2026 mencatat sebanyak 1.939 nama takson unik flora dan 1.910 nama takson unik fauna di Jawa Timur. Kekayaan tersebut mencakup sejumlah spesies bernilai konservasi tinggi, di antaranya rusa Bawean, banteng, elang Jawa, dan merak hijau.

Menurut Nurkholis, keanekaragaman hayati tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga berperan dalam menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, kesehatan, perekonomian, dan kesejahteraan masyarakat. Namun, keberadaannya menghadapi berbagai tantangan, seperti alih fungsi lahan, fragmentasi habitat, pencemaran, perubahan iklim, serta tekanan terhadap spesies dan sumber daya genetik.

“RIP Kehati Jatim 2026–2030 mengusung visi mewujudkan Jawa Timur yang lestari melalui pengelolaan keanekaragaman hayati secara terintegrasi, berkelanjutan, dan inklusif. Dokumen ini diharapkan memperkuat ketahanan ekosistem sekaligus mendukung kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah,” kata Nurkholis.

Deputy and Manager Global Biodiversity Framework Implementation Indonesia, Karen Alburs, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur, DLH, Bappenas, dan seluruh mitra atas penyusunan rencana induk serta pelaksanaan program kebersihan berbasis komunitas.

“Dokumen Profil dan Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati Provinsi Jawa Timur 2026–2030 diharapkan dapat mendorong aksi nyata, memperkuat kolaborasi seluruh pihak, serta mendukung perencanaan dan pendanaan jangka panjang yang efektif untuk menjaga keanekaragaman hayati dan kesejahteraan generasi mendatang,” ujarnya.

Penyusunan kedua dokumen dilakukan DLH Jatim bersama Anwar Muhammad Foundation (AMF), dengan dukungan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) serta Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) melalui program Global Biodiversity Framework Implementation (GBFI).

Salah satu upaya konkret pelestarian keanekaragaman hayati dilakukan melalui pengembangan Taman Kehati seluas sekitar 27 hektare di Cerme, Kabupaten Gresik. Dalam pengelolaannya, DLH Jatim menggandeng sejumlah perusahaan swasta untuk turut menanam dan melestarikan tumbuhan endemik serta langka.

Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, A. A. Leonardo Teguh Sambodo, mengatakan, Jawa Timur merupakan satu dari empat provinsi percontohan penyusunan rencana pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia, bersama Kalimantan Timur, Aceh, dan Papua Barat Daya.

Menurut Leonardo, Jawa Timur memiliki potensi besar untuk mengembangkan pelestarian lingkungan yang berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi. Salah satunya ditunjukkan melalui keberadaan ekosistem mangrove yang mencakup sekitar 48 persen dari total mangrove di Pulau Jawa.

“Konservasi sumber daya alam bukan merupakan misi yang terpisah dengan bagaimana pemerintah akan meningkatkan pertumbuhan dan menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, perwakilan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Laila Yunita Widiastuti, mengapresiasi penyusunan Profil Kehati 2026 dan RIP Kehati 2026–2030 sebagai bentuk komitmen daerah dalam mendukung target konservasi keanekaragaman hayati nasional dan global.

Ia mendorong pemerintah provinsi serta kabupaten/kota lainnya untuk menyusun profil dan rencana induk serupa sebagai dasar perencanaan konservasi dan pemulihan ekosistem. Melalui kedua dokumen tersebut, Pemprov Jatim diharapkan dapat memperkuat koordinasi lintas sektor, mengarahkan program konservasi secara lebih terukur, serta memastikan kekayaan keanekaragaman hayati tetap terjaga di tengah pembangunan daerah.

*Penghargaan bagi Pelestari Lingkungan*

Selain peluncuran dokumen, DLH Provinsi Jawa Timur memberikan penghargaan kepada masyarakat dan lembaga yang berkontribusi menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan.

Melalui Program Desa Berseri, penghargaan diberikan kepada Kelurahan Mojo di Surabaya, Kelurahan Arjowinangun di Malang, Desa Balerejo di Blitar, Kelurahan Sumbang di Bojonegoro, Desa Banyubang di Lamongan, Desa Balongasem di Nganjuk, dan Kelurahan Bandar Lor di Kediri. Para penerima memperoleh sertifikat dan kendaraan roda tiga.

Penghargaan Program Eko-Pesantren diberikan kepada Pondok Pesantren Darul Fikri, Islamic Center (LC), Fama Pasuruan, Bahrul Maghfiroh, Al-Umm Malang, Gading Mangu Jombang, dan Ar-Rahmah. Penghargaan berupa sertifikat serta simbolis empat drop box diberikan untuk mendukung pengelolaan sampah di lingkungan pesantren.

Pada kategori kebersihan masjid dan musala, penghargaan diberikan kepada Masjid Nurul Hidayah di Dinas ESDM Jatim, Masjid An-Nur di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, Masjid Asy-Syifa di RSUD Dr. Soedono Madiun, Masjid Al-Hikmah di Bakorwil III Malang, Masjid Al-Hidayah di Perhutani Rimba Wana, Masjid Al-Huda di BPSDM Jatim, Masjid Al-Furqon di BKD Jatim, Musala An-Nur di Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jatim, Masjid Ibnu Sina di RSUD Dr. Saiful Anwar, serta Masjid Al-Qomar di Dinas Komunikasi dan Informatika Jatim. Penghargaan tersebut berupa sertifikat serta drop box dan komposter secara simbolis.

Melalui peluncuran rencana induk dan pemberian penghargaan tersebut, Pemprov Jatim mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam menjaga keanekaragaman hayati dan meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan. Langkah ini diharapkan dapat mendukung pelestarian kekayaan alam Jawa Timur sekaligus memperkuat pembangunan daerah yang berkelanjutan.(*/ady)

Author

Redaksi Memo Timur

Follow Me
Other Articles
Previous

Dishub Jatim Siapkan Koridor Baru Trans Jatim Sidoarjo–Pasuruan, Target Beroperasi 2027

Next

Excavator Digunakan untuk Apa Saja? Ini Fungsi dan Kegunaannya

SeedbacklinkBanner BlogPartner Backlink.co.id
Copyright 2026 — Memo Timur. All rights reserved.