Ning Lia Ajak Gen Z Melek Politik dan Berani Speak Up Solutif di PBAK Universitas Al Hikmah Tuban

Anggota DPD/MPR RI Jawa Timur
Surabaya Motim – Generasi Z diminta tidak alergi terhadap politik dan berani menyuarakan aspirasi secara kritis namun santun. Langkah ini penting agar arah kebijakan bangsa ke depan tetap berada di tangan anak muda lokal.
Pesan tegas tersebut disampaikan Anggota DPD RI, Dr. Lia Istifhama, saat menjadi dosen tamu dalam kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Al Hikmah Indonesia di Tuban, Sabtu (5/9/2026).
Politikus muda yang akrab disapa Ning Lia ini membawakan materi bertajuk _“Meritokrasi sebagai Pilar Kampus Berdampak dan Berdaya Saing Global”_ di hadapan ratusan mahasiswa baru.

Leadership is Action, Bukan Sekadar Jabatan
Dalam paparannya, Ning Lia menekankan bahwa esensi kepemimpinan terletak pada tindakan nyata, bukan sekadar jabatan.
“Jadilah pribadi yang berperan, jangan sampai baperan,” cetus senator asal Surabaya tersebut.
Manfaatkan Medsos untuk Speak Up yang Solutif.
Di era digital, Ning Lia mendorong Gen Z untuk aktif mengawal isu sosial melalui media sosial. Namun ia mengingatkan agar aksi _speak up_ diarahkan untuk kritik konstruktif, bukan sekadar provokasi demi popularitas.
“Bila ada sebuah permasalahan, _speak up_ melalui media sosial boleh dan sangat boleh. Tapi jangan menjadikan momen tersebut untuk viral atau tenar yang justru berpotensi menjatuhkan pihak lain. Yang harus dilakukan tetap _speak up_ namun memberikan solusi,” tegasnya.
Ning Lia juga mengingatkan bahwa Indonesia adalah negara hukum berbasis konstitusi atau nomokrasi. Dalam sistem demokrasi, tidak semua aspirasi dapat langsung dipenuhi karena harus melalui proses pembahasan dan pemungutan suara. Ia meminta mahasiswa tidak berkecil hati jika pendapatnya belum terakomodasi.
Pemuda Harus Melek Politik.
Lebih lanjut, Ning Lia memberikan ilustrasi dari sebuah negara di mana pemudanya enggan berpolitik karena merasa negaranya sudah sejahtera. Akibatnya, kursi parlemen justru diisi oleh kaum migran.
“Terus pemuda bangsa jadi apa? Apakah rela parlemen Indonesia diisi oleh orang migran? Makanya pemuda Indonesia harus jadi pemuda yang melek politik agar kursi legislatif tetap diisi oleh para pemuda Indonesia,” ujar Ning Lia.
Reses sebagai Bentuk Pertanggungjawaban.
Dalam sesi tanya jawab, Ali Usman dari Prodi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah bertanya terkait cara menghadapi sentimen negatif masyarakat terhadap kinerja wakil rakyat di DPR/DPD.
Menjawab hal itu, Ning Lia menjelaskan setiap anggota dewan memiliki kewajiban menjalankan masa reses untuk turun langsung bertemu konstituen di daerah pemilihan.
Melalui reses, wakil rakyat menggali keluhan, kebutuhan, dan masukan masyarakat secara langsung sebagai bentuk pertanggungjawaban moral dan politik. Aspirasi tersebut kemudian dirangkum menjadi Pokok Pikiran (Pokir) untuk dibawa ke Rapat Paripurna dan ditindaklanjuti ke pemerintah daerah.
Paparan Ning Lia disambut antusias oleh ratusan mahasiswa Universitas Al Hikmah yang memberikan _love sign_ sebelum senator tersebut meninggalkan ruangan.
Sementara itu, Rektor Universitas Al Hikmah Tuban, Dr. Laily Hidayati, http://S.Psi., http://M.Psi., Psikolog, mengungkapkan alasannya kembali mengundang Ning Lia sebagai pembicara PBAK. Menurutnya, Ning Lia adalah sosok yang konsisten memberi perhatian besar terhadap dunia pendidikan dan mampu memberikan inspirasi nyata bagi mahasiswa. (*/ady)
