Pemasangan Tebing Sungai , Pemprov Jatim Percepat Pembangunan Bronjong Akibat Abrasi
Surabaya Motim – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau kondisi bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kalibuntu di Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo., Gedung sekolah tersebut terancam rusak lebih parah akibat abrasi sungai yang kian parah usai banjir besar pada Februari lalu.
Banjir tersebut menggerus tanggul alami di sisi sungai, membuat dua ruang kelas di SDN Kalibuntu ambruk. Kondisi ini mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk turun tangan secara langsung.
“Abrasi di sini memang sudah berlangsung lama, tapi laporan resminya baru masuk ke pemprov Februari kemarin. Dua ruang kelas sudah roboh, sisanya juga sangat berisiko,” Tutur Gubernur Khofifah.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur didampingi Wakil Bupati Probolinggo Fahmi AHZ dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Jawa Timur, Ir. Baju Trihaksoro. Mereka juga meninjau langsung pengerjaan pembangunan bronjong —struktur pelindung yang dipasang di tebing sungai untuk menahan abrasi lebih lanjut.
Gubernur Khofifah menegaskan pentingnya percepatan pembangunan bronjong sebagai langkah strategis untuk melindungi infrastruktur pendidikan dan pemukiman warga. Ia menargetkan proses pembangunan dapat selesai pada Agustus 2025.
“Kita rapikan dulu tanggulnya dengan pemasangan bronjong. Setelah itu, untuk renovasi atau pembangunan ulang gedung sekolah, kami minta Pemkab Probolinggo segera mengajukan permohonan ke provinsi,” jelasnya.
Sementara Kepala Dinas PU SDA Jatim, Ir. Baju Trihaksoro, menambahkan ” Pembangunan bronjong ini merupakan bagian dari proyek mitigasi bencana yang mencakup enam titik rawan di Kabupaten Probolinggo.
“Bronjong yang dibangun memiliki tinggi antara 6 hingga 7 meter, dengan total panjang hampir 370 meter. Kalibuntu menjadi prioritas karena abrasi di sini langsung mengancam fasilitas pendidikan,” Terang Pak Bayu.
Bronjong yang digunakan juga dirancang dengan struktur khusus dan dilapisi geotextile untuk memperkuat daya tahan terhadap erosi yang ditimbulkan aliran sungai.
Lebih dari sekadar melindungi sekolah, proyek ini juga menyasar ketahanan pangan warga. Banjir sebelumnya telah merendam sekitar 18 hektare sawah di sekitar lokasi.
“Ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga ketahanan pangan. Proyek senilai Rp 9 miliar ini menjadi bagian dari respons cepat pemprov atas arahan Ibu Gubernur dalam penanganan bencana,” pungkasnya.(*/ady)