Wagub Jatim dan Gus Iqdam Luncurkan ”Talenta Digital Santri” Al Yasmin dengan 21 konfigurasi drone

Surabaya Motim – Pendakwah dan pengasuh Majelis Taklim “Sabilu Taubah” dari Blitar Gus Iqdam (Muhammad Iqdam Kholid) dan Wagub Jatim Emil S Dardak meluncurkan program “Talenta Digital Santri” Pesantren Digipreneur (Digital-Entrepreneur) “Al-Yasmin” Surabaya dengan menekan tombol untuk atraksi 21 konfigurasi drone di atas ribuan jamaah di Pesantren Digipreneurs Al-Yasmin, Surabaya, Ahad (5/4) malam.

Ke-21 konfigurasi drone yang juga disaksikan pimpinan BI, Bank Jatim, Kepala Kemenag Jatim, BPP MAS, serta perwakilan PWNU Jatim itu bertuliskan: Allah, Muhammad, logo/titel Al-Yasmin, Talenta Digital Santri, merah putih, Gubernur Khofifah, Wagub Emil Dardak, Gus Iqdam, Bunga (indah bermakna), ST Nyell, Digital Tech, Helmy M Noor (penggiat dakwah digital/Al Yasmin), Cita Helmy, Globe Santri (santri adalah innovator), dan Bank Jatim Syariah.


“Saya baru pertama kali ini melihat drone dan hebatnya lagi justru itu karya santri alumni Pesantren Bumi Sholawat yang juga putra pengasuh pesantren ini, jadi santri itu memang harus bisa jadi apa saja, apakah jadi gubernur yang santri, jadi kayak Gus Iqdam yang ngaji bersama kaum garangan, jadi santri itu harus berakhlak tapi teknologinya juga maju,” kata Gus Iqdam saat peluncuran program pesantren itu.

Bahkan, Gus Iqdam juga berjanji akan mengirimkan santrinya untuk menjadi santri yang paham IT dan melek sosmed dengan belajar di Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya. “Kalau santri itu punya akhlak dan teknologi, tentu akan membuat masyarakat lebih mudah memahami ilmu Allah, karena dakwahnya sesuai zamannya. Jadi, santri Al-Yasmin itu kayak santri model rohmatan yang bisa ngaji tapi canggih,” katanya.
Menurut pendakwah milenial itu, “hablumminannas” (berbuat baik kepada manusia) itu memang sulit, bahkan ada ulama yang menyatakan “hablumminannas” itu lebih sulit daripada “hablumminallah” (berbuat baik kepada Allah/beriman dan beribadah), apalagi Al-Qur’an Surah Ali Imron menegaskan bahwa manusia itu memang berpotensi diliputi kehinaan, kecuali berpegang teguh pada “hablumminallah” dan “hablumminannas”.
“Itu karena hidup dengan manusia memang berpotensi bangkrut, sehingga perlu sabar dan banyak berdoa. Rasulullah pernah ditanya tentang orang pailit/bangkrut itu adalah orang yang datang membawa pahala shalat, zakat, puasa, dan sebagainya, tapi mulutnya menyakiti orang lain, menuduh orang lain, memakan hak orang lain, memukul, dan menumpahkan darah, maka kebaikannya diberikan kepada orang yang disakiti, tapi kalau masih kurang justru keburukan orang lain itu akan ditimpahkan kepadanya, jadi benar-benar bangkrut,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Wagub Emil Dardak yang mewakili Gubernur Khofifah yang sedang kunjungan dinas ke NTB itu menilai pesan-pesan kebaikan yang disampaikan Gus Iqdam memang membawa kedamaian, apalagi di lingkungan Pesantren Al-Yasmin yang memang kawasan “tetangga” penuh kedamaian dengan kedekatan dengan Kantor PWNU Jatim, Masjid Nasional Al-Akbar, MUI Jatim, dan sebagainya.
“Dengan pesan kebaikan dan pesan damai dari Gus Iqdam itu, kemudian disambung dengan Pesantren Digipreneur Al-Yasmin yang sejak awal memang diyakini Ibu Gubernur Khofifah bahwa pesantren ini justru akan menyambungkan akar tradisi dengan aransemen digital dari Generasi Z, sehingga ada banyak keindahan dari teknologi digital, sehingga santri di sini justru yang pertama memajukan agama sesuai perkembangan teknologi. Buktinya, malam ini ada drone dengan tulisan Allah, Muhammad, Al Yasmin yang indah,” katanya.
Terkait program “Talenta Digital Santri” itu, pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin H Helmy M Noor menjelaskan Talenta Digital Santri adalah program edukasi yang bertujuan memberdayakan santri dengan pengetahuan dan keterampilan digital, serta kewirausahaan, namun dalam kaidah keislaman dan bingkai kepesantrenan.
“Program itu memang dirancang untuk membekali generasi muda Indonesia dengan pemahaman literasi digital yang kuat, kemampuan entrepreneur yang mumpuni, serta wawasan keislaman yang mendalam, sehingga santri dapat menjadi agen perubahan yang positif di masyarakat, apalagi Gubernur Khofifah juga tegas memastikan anak muda Jawa Timur menguasai ekosistem teknologi, dengan membuka pintu lebar bagi para santri dan pelajar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi kreatif global,” pungkasny.(*/ady)