BPBD Jatim Siaga 24 Jam: Distribusi 11 Juta Liter Air Bersih dan Monitor Karhutla Lewat Command Center

Surabaya Motim – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur menyatakan status siaga dalam menghadapi potensi bencana, khususnya kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kesiapsiagaan ini dimonitor langsung melalui Command Center dan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Jatim.
Dalam tinjauan di Command Center BPBD Jatim, terlihat layar besar menampilkan berbagai data penting secara _real time_. Mulai dari “Tabel Distribusi Air Bersih”, peta sebaran karhutla, hingga laporan kejadian bencana dari kabupaten/kota.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak mengatakan, Command Center berfungsi untuk memantau berbagai hal guna meringankan kesulitan masyarakat terdampak bencana.
“Saat ini kami sedang dalam status siaga darurat kekeringan. Salah satu fokus utama kami adalah memastikan distribusi air bersih berjalan lancar,” jelasnya,Senin(14/09/2026) ketika meninjau Command Center BPBD Jawa Timur.
*Distribusi Air Bersih Tembus 11,1 Juta Liter*
Berdasarkan data “Tabel Distribusi Air Bersih” yang terpantau di Command Center, BPBD Jatim bersama BPBD Kabupaten/Kota, Pemprov Jatim, dan sejumlah lembaga telah mendistribusikan total 11.135.500 liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan.
Beberapa daerah dengan distribusi terbesar di antaranya Kabupaten Malang, Kabupaten Bangkalan, dan Kabupaten Lamongan. Distribusi ini berasal dari APBD Pemprov Jatim maupun APBD Kabupaten/Kota.
*Pantau Karhutla dan Laporan Evakuasi*
Selain kekeringan, BPBD Jatim juga memantau titik api karhutla yang terpantau melalui citra satelit di layar video wall Command Center. Petugas juga memantau laporan masuk terkait kejadian bencana.
Salah satu laporan yang masuk pada Senin, 14 September 2026 adalah terkait evakuasi warga di wilayah Kabupaten Banyuwangi akibat krisis air bersih. Laporan tersebut berisi detail lokasi, kronologi, dan jumlah penerima manfaat.
“Semua laporan, baik terkait distribusi bantuan, karhutla, maupun evakuasi, kami pantau 24 jam melalui Pusdalops. Tujuannya agar penanganan bisa cepat, tepat, dan terkoordinasi,” pungkasnya. (*/ady)
