Sinergi Cegah Gangguan Mental: RS Prof. Dr. Moeljono Gandeng Komunitas, Soroti Isu Kesehatan Mental Laki-laki

Surabaya Motim – Dalam upaya menekan angka gangguan kesehatan mental yang kian meningkat, Rumah Sakit Prof. Dr. Moeljono menegaskan komitmennya untuk tidak hanya fokus pada penanganan kuratif, tetapi juga memperkuat langkah preventif.
Langkah strategis ini diwujudkan melalui kolaborasi dengan komunitas dan organisasi masyarakat, salah satunya FPPI.

Direktur Rumah Sakit Prof. Dr. Moeljono, *drg. Vitria Dewi,M.Si.*, menegaskan bahwa penanganan kesehatan mental tidak cukup hanya dengan mengobati pasien yang datang ke rumah sakit.
“Fenomena masalah kesehatan mental saat ini ibarat fenomena gunung es. Pasien yang datang ke rumah sakit diperkirakan baru sekitar 10% dari total kasus yang ada di masyarakat. Sisanya belum terdeteksi dan berpotensi memicu masalah sosial yang lebih berat, seperti Kekerasan Dalam Rumah Tangga hingga tindakan kriminal,” tutur drg. Vitria pada Rabu (22/7/2026).
*Dukungan Fasilitas dan SDM Profesional*
Sebagai bentuk komitmen sinergi, rumah sakit siap memberikan dukungan penuh melalui:
– *Tenaga Ahli dan Keilmuan*: Menyediakan tenaga medis dan profesional kesehatan jiwa untuk pendampingan serta edukasi.
– *Dukungan Lintas Divisi*: Melibatkan tim Humas, Media, dan Marketing untuk memperluas jangkauan informasi.
– *Kegiatan Edukasi Publik*: Membuka ruang kolaborasi berupa sosialisasi di arena Car Free Day, seminar, workshop, hingga Focus Group Discussion.
*Sorotan: Dominasi Pasien Laki-laki dan Dampak Bullying*
Berdasarkan data internal rumah sakit, prevalensi pasien laki-laki mulai dari usia anak-anak hingga dewasa tercatat lebih tinggi dibanding perempuan. Hal ini dipicu oleh tekanan ekonomi, tuntutan pendidikan, lingkungan, serta stigma budaya yang kerap menuntut laki-laki untuk menyembunyikan emosi.
Beberapa masalah utama yang banyak dialami pasien anak dan remaja laki-laki meliputi:
1. Gangguan Psikosis dan Skizofrenia
2. Kecanduan Gadget dan Pornografi
3. Dampak Perundungan atau Bullying
Salah satu kasus yang baru ditangani di IGD menggambarkan dampak fatal bullying yang dibiarkan bertahun-tahun. Seorang remaja berusia 16 tahun mengalami trauma berat akibat perundungan sejak lulus SD. Kondisi tersebut memicu penarikan diri dari lingkungan, perilaku agresif, hingga penurunan kemampuan berpikir jernih.
*Peran Keluarga Jadi Kunci*
Ketua FPPI Surabaya, Nenny Gunarso, menambahkan bahwa minimnya ruang aman bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi serta maraknya stigma sosial menjadi latar belakang kampanye kepedulian kesehatan mental anak laki-laki.
“Selama ini edukasi tentang perlindungan dan kesehatan mental masih terlalu fokus pada anak perempuan. Padahal anak laki-laki juga menghadapi tekanan psikologis yang besar, mulai dari stigma sosial hingga tuntutan untuk selalu terlihat kuat,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa keluarga adalah lini terdepan.
“Anak-anak berangkat dari rumah. Sekolah atau rumah sakit punya keterbatasan waktu. Pendidikan karakter dan ruang aman untuk berekspresi harus dimulai dari orang tua di rumah,” tambahnya.
*Rangkaian Program Hingga Oktober*
Kampanye ini akan berlangsung hingga Oktober mendatang dengan rangkaian kegiatan:
– *Seminar dan Talkshow*: Edukasi interaktif bersama praktisi kesehatan mental.
– *Focus Group Discussion*: Penggalian isu dan penyusunan solusi bersama lintas pihak.
– *Kampanye Media Sosial*: Penyebaran konten edukatif dan suportif secara masif.
– *Aksi Publik*: Edukasi langsung di ruang terbuka seperti pada momen Car Free Day.
Melalui gerakan ini, diharapkan masyarakat, khususnya para orang tua, semakin peka dan membuka ruang komunikasi yang inklusif serta ramah emosi bagi anak laki-laki.
*Tentang Rumah Sakit Prof. Dr. Moeljono*
Rumah Sakit Prof. Dr. Moeljono berkomitmen memberikan layanan kesehatan komprehensif, tidak hanya kuratif tetapi juga promotif dan preventif, melalui sinergi dengan komunitas dan pemangku kepentingan.(*/ady)